Lebih Jauh Mengenal Pneumonia

Artikel sebelumnya telah saya bahas sedikit mengenai pneumonia. Nah, dalam artikel ini akan saya perdalam lagi bahasan mengenai penumonia. Sebenarnya apa sih itu penumonia? mungkin masih terdengar asing ya. Penyakit ini mungkin memang kalah pamor jika dibandingkan dengan tuberkulosis, ataupun penyakit yang menyerang saluran pernapasan lainnya, misalnya bronkitis atupun asma. Meskipun demikian, bukan berarti pneumonia tak perlu diwaspadai. Penyakit ini juga sama berbahayanya seperti tuberkulosis jika tidak segera ditangani serius.

Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Sebagian besar pneumonia disebabkan oleh bakteri, yang terjadi secara primer atau sekunder setelah infeksi virus. Peyebab tersering pneumonia bakteri adalah bakteri gram-positif, Streptococcus pneumoniae yang menyebabkan pneumonia streptokokus.

Tanda dan Gejala pneumonia :

Dispnea (sesak napas), batuk, menggigil, nyeri dada, demam (suhu > 100 oF ), Penurunan suara napas, rales, ronki, dan mengi, dan napas cepat.

Penyebab peneumonia dapat virus, bakteri, jamur, protozoa, atau riketsia ; pneumonitis hipersensitivitas dapat menyebabkan penyakit primer. Pneumonia dapat juga terjadi akibat aspirasi. Paling jelas adalah pada klien yang diintubasi, kolonisasi trakhea dan terjadi mikroaspirasi sekresi saluran pernapasan atas yang terinfeksi. Tidak semua kolonisasi akan mengakibatkan pneumonia.

Mikroorganisme dapat mencapai paru melalui beberapa jalur :

  1. Ketika individu yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara, mokroorganisme dilepaskan ke dalam udara dan terhirup oleh orang lain.
  2. Mikroorganisme dapat juga terinspirasi dengan aerosol dari peralatan terapi pernapasan yang terkontaminasi.
  3. Pada individu yang sakit atau higienne giginya buruk, flora normal orofaring dapat menjadi patogenik.
  4. Staphilococcus dan bakteri gram-negatif dapat menyebar melalui sirkulasi dari infeksi sistemik, sepsis, atau jarum obat IV yang terkontaminasi.

Pada individu yang sehat, patogen yang mencapai paru dikeluarkan atau tertahan dalam pipi melalui mekanisme pertahanan diri seperti refleks batuk, klirens mukosiliaris, dan fagositosis oleh makrofag alveolar. Pada individu yang rentan, patogen yang masuk ke dalam tubuh memperbanyak diri, melepaskan toksin yang bersifat merusak dan menstimulasi respon inflamasi dan respon imun, yang keduanya mempunyai efek samping merusak. Reaksi antigen- antibodi dan endotoksin yang dilepaskan oleh beberapa mikroorganisme merusak membran mukosa bronkhial dan membran alveolokapilar. Inflamasi dan edema menyebabkan sel-sel acini dan bronkhiole terminalis terisi oleh debris infeksius dan eksudat, yang menyebabkan abnormalitas ventilasi-perfusi. Jika pneumonia disebabkan oleh staphilococcus atau bakteri gram negatif dapat terjadi juga nekrosis parenkim paru.

Pemeriksaan diagnostik :

1.        Rontgent

Gambaran yang diperoleh dari hasil rontgent memperlihatkan kepadatan pada bagian paru. Kepadatan terjadi karena paru dipenuhi sel radang dan cairan yang sebenarnya merupakan reaksi tubuh untuk mematikan kuman. Akibatnya fungsi paru terganggu, penderita mengalami kesulitan bernapas karena tidak tersisa ruang untuk oksigen.

Kelainan yang tampak pada foto rontgent penderita penumonia dapat berupa bercak putih setempat atau tersebar di sekitar paru ataupun gambaran lainnya terdapat komplikasi pneumonia.

2. Pemeriksaan Sputum

Pasien yang dicurigai menderita pneumonia, perlu dilakukan pengambilan sputum/ dahak  untuk dikultur dan di test resistensi kuman untuk dapat mengetahui mikroorganisme penyebab pneumonia tersebut.

Pengambilan sputum dapat dilakukan dengan cara :

a.    Dibatukkan atau didahului dengan proses perangsangan (induksi ) untuk mengeluarkan dahak dengan menghirup NaCl 3 %.

b.Dahak dapat diperoleh dengan menggunakan alat tertentu seperti protective brush (semacam sikat untuk mengambil sputum pada saluran napas bawah ).

Pada penderita pneumonia akan didapatkan lebih dari satu tipe organisme , seperti Diplococcus pneumoniae, Staphylococcus aureus, A. hemolytic streptococcus, dan Hemophilus influenzae.   

 3. Pemeriksaan Darah Lengkap ( Complete Blood Count –CBC)

Leukositosis biasanya timbul, meskipun nilai pemeriksaan darah putih (white blood count –WBC) rendah pada infeksi virus ( Somantri, 2007). Pada penderita pneumonia umumnya, jumlah leukosit (sel darah putih ) dapat melebihi batas normal yaitu 10.000/mikroliter .

 4. Pemeriksaan Fungsi Paru-paru

Penderita pneumonia akan menunjukkan volume pernapasan mungkin menurun (kongesti dan kolaps alveolar): tekanan saluran udara meningkat dan kapasitas pemenuhan udara menurun, hipoksemia.

Sumber :

Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC

Asih, Niluh Gede Y & Christantie. 2004. Keperawatan Medikal Bedah : Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta : EGC

Misnadiarly. 2008. Penyakit Infeksi Napas Pneumonia pada Anak, Orang Dewasa, Usia Lanjut, Pneumonia Atipik & Pneumonia Atypik Mycobacterium. Jakarta : Pustaka Obor Populer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s